Maharani, Ami Putri (2026) Tafsir Kultural Terhadap Seni Pertunjukan Wayang Mbah Gandrung di Era Kontemporer. Undergraduate (S1) thesis, IAIN Kediri.
|
Text
20105095_Prabab.pdf Download (617kB) |
|
|
Text
20105095__bab 1.pdf Download (254kB) |
|
|
Text
20105095__bab 2.pdf Download (200kB) |
|
|
Text
20105095__bab 3.pdf Download (249kB) |
|
|
Text
20105095__bab 4.pdf Restricted to Repository staff only Download (466kB) |
|
|
Text
20105095__bab 5.pdf Restricted to Registered users only Download (258kB) |
|
|
Text
20105095__bab 6.pdf Download (156kB) |
|
|
Text
20105095__daftar pustaka.pdf Download (155kB) |
|
|
Text
20105095__lampiran.pdf Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
|
|
Text
20105095_Pernyataan Upload.pdf Download (166kB) |
Abstract
Seni pertunjukan Wayang Mbah Gandrung sebagai warisan budaya sakral masyarakat Desa Pagung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, yang tetap bertahan di tengah arus globalisasi dan perubahan sosial di era kontemporer. Pertunjukan ini bukan sekadar tontonan, tetapi juga sistem simbol yang sarat nilai spiritual, moral, dan sosial, serta berfungsi sebagai sarana ritual, media nazar, dan representasi identitas budaya masyarakat. Dalam perspektif teori tafsir budaya Clifford Geertz, Wayang Mbah Gandrung dipahami sebagai “teks budaya” yang mengandung jaringan makna yang terus ditafsirkan dan direproduksi oleh masyarakat melalui ritual, narasi, karakter wayang, dan simbol-simbol pertunjukan. Dengan demikian, penelitian ini memfokuskan kajian pada prosesi pertunjukan serta makna simbolik yang hidup dalam praktik budaya tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif–interpretatif. Teknik pengumpulan data meliputi observasi langsung, wawancara, dokumentasi. Subjek penelitian terdiri dari 4 informan yang merupakan masyarakat desa Pagung Kediri. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosesi Wayang Mbah Gandrung terdiri atas tahap niat nazar, selamatan dan doa pembuka, pementasan inti, serta penutupan, yang masing-masing memiliki makna simbolik tentang rasa syukur, perlindungan, dan hubungan manusia dengan leluhur serta Tuhan. Masyarakat memaknai sesajen, kemenyan, tembang pangkur, tokoh Mbah Gandrung, iringan gamelan, dan blencong sebagai simbol spiritual yang menghubungkan dunia nyata dan transendental. Pertunjukan ini tetap eksis di era kontemporer karena mampu beradaptasi sembari mempertahankan nilai sakralnya, dan menjadi ruang negosiasi makna antara tradisi dan perubahan sosial. Dengan demikian, Wayang Mbah Gandrung berfungsi sebagai penjaga identitas budaya sekaligus media pelestarian nilai-nilai lokal yang tetap relevan bagi masyarakat Pagung hingga kini.
| Item Type: | Thesis (Skripsi, Tesis, Disertasi) (Undergraduate (S1)) |
|---|---|
| Subjects: | 16 STUDIES IN HUMAN SOCIETY (Studi Kemasyarakatan, incl : sosiologi) > 1608 Sociology > 160801 Applied Sociology, Program Evaluation and Social Impact Assessment |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin > Jurusan Sosiologi Agama |
| Depositing User: | AMI PUTRI MAHARANI |
| Date Deposited: | 02 Jul 2026 06:48 |
| Last Modified: | 02 Jul 2026 06:48 |
| URI: | https://etheses.iainkediri.ac.id:80/id/eprint/23217 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
