Ramadhan, M. Rizki Syahrul (2026) Corak keindonesiaan dalam fikih lingkungan hidup di Pesantren Tebuireng. Doctoral (S3) thesis, UIN Syekh Wasil Kediri.
|
Text
23531009_PraBab.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
23531009_Bab1.pdf Download (715kB) |
|
|
Text
23531009_Bab2.pdf Download (996kB) |
|
|
Text
23531009_Bab3.pdf Download (383kB) |
|
|
Text
23531009_Bab4.pdf Restricted to Registered users only Download (1MB) |
|
|
Text
23531009_Bab5.pdf Restricted to Registered users only Download (1MB) |
|
|
Text
23531009_Bab6.pdf Download (292kB) |
|
|
Text
23531009_DaftarPustaka.pdf Download (334kB) |
Abstract
Fikih lingkungan hidup di Indonesia masih sering berhenti pada tataran normatif dan belum sepenuhnya terhubung dengan realitas ekologis, sosial, kelembagaan, dan kebijakan publik. Pesantren Tebuireng telah mengembangkan respons ekologis melalui bahtsul masail, media edukasi, kebijakan kelembagaan, pengelolaan sampah, pembiasaan santri, dan eco-sunnah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi produk fikih lingkungan hidup, merekonstruksi metode perumusannya, merumuskan kerangka ushuliyahnya, serta menemukan corak keindonesiaannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus serta pendekatan normatif dan sosial. Data diperoleh dari dokumen Bahtsul Masail, media pesantren, kurikulum, kebijakan kelembagaan, program lingkungan, observasi, dan wawancara. Data dianalisis secara normatif-ushuli, kontekstual-sosiologis, dan tematik-konseptual. Keabsahan data diperiksa melalui triangulasi dan member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk fikih lingkungan hidup Tebuireng terdiri atas produk primer dan produk turunan. Produk primer mencakup keputusan hukum formal Bahtsul Masail, doktrin normatif Dewan Syariah, dan pandangan normatif Dewan Masyayikh; sedangkan produk turunan berbentuk normatif-edukatif, kelembagaan-manajerial, dan paradigmatik-keilmuan. Perumusannya bergerak melalui kontekstualisasi masalah ekologis, normativisasi keagamaan, dan transformasi norma ke dalam praksis kelembagaan, sehingga membentuk konfigurasi metodologis kontekstual-integratif berbasis pesantren. Kerangka ushuliyahnya bersifat maqashidi-kontekstual dengan mengoperasikan maqāṣid al-syarī‘ah, maslahat-mafsadah, kaidah fikih, taḥqīq al-manāṭ, fiqh al-wāqi‘, sadd dan fatḥ al-dzarī‘ah, serta eco-sunnah. Corak keindonesiaannya terletak pada pertemuan normativitas Islam, realitas ekologis Indonesia, tradisi pesantren, kemaslahatan publik, dan kebijakan negara. Kekhasannya terletak pada konfigurasi dan pelembagaan perangkat ushul fikih dalam konteks Indonesia.
Actions (login required)
![]() |
View Item |
