Hafil, Ach. Shodiqil (2025) Konstruksi pemikiran al-Ghazali: integrasi filsafat dan tasawuf dalam kitab ihya ulum al-din. Doctoral (S3) thesis, UIN Syekh Wasil Kediri.
|
Text
22531003_pra_bab.pdf Download (583kB) |
|
|
Text
22531003_bab1.pdf Download (312kB) |
|
|
Text
22531003_bab2.pdf Download (474kB) |
|
|
Text
22531003_bab3.pdf Restricted to Registered users only Download (597kB) | Request a copy |
|
|
Text
22531003_bab4.pdf Restricted to Registered users only Download (544kB) | Request a copy |
|
|
Text
22531003_bab5.pdf Restricted to Registered users only Download (510kB) | Request a copy |
|
|
Text
22531003_bab6.pdf Download (274kB) |
|
|
Text
22531003_daftar_pustaka.pdf Download (156kB) |
|
|
Text
Pernyataan Upload.pdf Restricted to Repository staff only Download (255kB) | Request a copy |
Abstract
Penelitian ini mengkaji konstruksi epistemologi Al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn sebagai respons terhadap dikotomi filsafat-tasawuf dalam tradisi intelektual Islam, sekaligus meninjau ulang narasi historis yang menempatkannya sebagai figur anti-filsafat. Dengan pendekatan integrasi-interkoneksi dan metode kualitatif berbasis library research—melalui analisis hermeneutis (fusion of horizons), close reading, dan intertekstualitas—penelitian ini mengungkap dua temuan utama. Pertama, epistemologi Al-Ghazali direkonstruksi melalui model integ-rejec-integration: dialektika tripartit yang mencakup (1) integrasi kritis logika filosofis untuk mengkritik formalisme ulama (al-Mutarassimūn), (2) penolakan otonomi epistemik filsafat dengan menundukkannya di bawah paradigma Qur’ani (tazkiyat al-nafs), dan (3) reformulasi transendental yang mengubah filsafat menjadi instrumental reason dalam hierarki dinamis ilmu. Proses ini terlihat dalam Khutbah al-Muallif, Kitāb al-‘Ilm (dengan klasifikasi fikih, teologi, dan tasawuf sebagai fondasi hingga puncak epistemologis), serta Asrār al-Ṭahārah (empat strata kesucian yang memadukan logika kausalitas dan makna transendental). Model ini menawarkan lensa analitis baru yang mengatasi pembacaan dikotomis sebelumnya, menegaskan integrasi kritis disiplin “asing” dalam kerangka teleologis-spiritual. Kedua, Al-Ghazali menampilkan diri sebagai Filusufi—mediator antara rasionalitas filosofis dan spiritualitas Sufi—melalui sintesis ontologi Ibnu Sina (jiwa-tubuh), metafora Platonis-Galenis (tripartisi jiwa), dan kosmologi Qur’ani. Dalam Kitāb ‘Ajā’ib al-Qalb, ia mengonversi filsafat menjadi instrumen spiritual: logika demonstratif (burhān) dipadukan dengan intuisi Sufi (ilhām), sementara prinsip bi-lā kayfa Asy‘ariyah menjembatani wahyu dan akal. Kritik sebagai “filsuf amatir” (Ibnu Rusyd) justru menguatkan posisi uniknya dalam merespons polarisasi historis dan kontemporer. Implikasi teoretis penelitian ini memperkaya studi integratif keilmuan Islam klasik, sementara relevansinya terletak pada model epistemologi dinamis-transformatif yang menjawab problem desakralisasi ilmu modern. Temuan ini menegaskan Iḥyā’ bukan sekadar kanon agama, melainkan sistem hierarkis-koheren yang mensinergikan integritas spiritual dan nalar kritis, relevan bagi kompleksitas epistemik kontemporer.
Actions (login required)
![]() |
View Item |
