Lestari, Shinta Eka (2025) Kontekstualisasi Hadis Tentang Puasa Dahr (Aplikasi Metode Pemahaman Hadis Yusuf Al-Qardhawi). Undergraduate (S1) thesis, UIN Syekh Wasil Kediri.
|
Text
21106014_prabab.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
21106014_bab1.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
21106014_bab2.pdf Download (981kB) |
|
|
Text
21106014_bab3.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
21106014_bab4.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
21106014_bab5.pdf Download (655kB) |
|
|
Text
21106014_daftar_pustaka.pdf Download (507kB) |
|
|
Text
21106014_lampiran.pdf Download (490kB) |
|
|
Text
21106014_lembar_pernyataan_persetujuan_publikasi.pdf Restricted to Repository staff only Download (456kB) |
Abstract
Puasa dahr adalah puasa yang dilakukan sepanjang tahun. Mengenai hal ini, terdapat hadis Nabi saw. yang tidak menganjurkan puasa dahr. Namun, para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai puasa dahr, seperti: (1) Mazhab al-Ḥanafiyah menghukumi makruh. (2) Mazhab al-Mālikiyah, al-Syafī'īyah, dan Ḥanābilah menghukumi diperbolehkan asal tidak menimbulkan madarat. (3) Ibnu Hazm menghukumi haram karena khawatir kondisi tubuhnya melemah. Berdasarkan diperbolehkan berpuasa dahr asal tidak menimbulkan madarat, masyarakat ada yang melakukannya, meskipun dalam bentuk yang beragam, seperti puasa dalā’il al-khayrat, dalā’il al-Qur’an, dan puasa wishal. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengkaji lebih lanjut interpretasi hadis tentang puasa dahr dalam Kutub al-Tis’ah dengan meneliti konteks sosio-historisnya menggunakan prinsip pemahaman hadis yang digagas oleh Yusuf al-Qardhawi. Rumusan masalahnya adalah: (1) Bagaimana otentisitas hadis tentang puasa dahr? (2) Bagaimana interpretasi hadis puasa dahr perspektif Yusuf al-Qardhawi? Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan yang termasuk dalam kajian ma’ā nī al-ḥadīth. Metode pengumpulan data adalah takhrīj berdasarkan makna melalui kitab Sunan al-sNasa’i, Sunan Abu Dāwud, Sunan al-Tirmidhi, Musnad Ahmad, dan melakukan i’tibār. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dalam tiga tahap: Pertama, kritik sanad untuk menguji ketersambungan dan kualitas perawi dari aspek kredibilitas (adil) dan intelektualitas (dabit). Kedua, kritik matan untuk memastikan keterbebasan matan dari shāḍ dan ‘illat. Ketiga, interpretasi hadis puasa dahr perspektif Yusuf al-Qardhawi dengan menggunakan empat prinsip pemahaman yang ditawarkan oleh Yusuf al-Qardhawi: (1) Memahami hadis sesuai dengan al-Qur’an. (2) Menggabungkan hadis yang saling bertautan dalam tema yang sama. (3) Memahami hadis dengan melihat aspek sejarahnya. (4) Membedakan sarana yang bisa berubah-ubah (wasīlah mutaghayyirah) dan tujuan yang tetap (ghāyah thābitah). (5) Membedakan ungkapan yang hakiki dan majazi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Hadis tentang puasa dahr secara kuantitas bernilai aḥad mashūr, karena diriwayatkan oleh tiga sahabat, yakni Abdillāh bin al-Shikhīr bin ‘Auf, ‘Abdullāh bin ‘Amr, dan Ibnu Abbās. Secara kualitas, hadis tersebut bernilai sahih dari segi sanad maupun matan. (2) Setelah hadis tersebut dipahami menggunakan prinsip pemahaman Yusuf al-Qardhawi, ditemukan beberapa hal: Pertama, hadis tentang puasa dahr tidak bertentangan dengan QS. Al-A’raf [8]:31 tentang sikap berlebihan, QS. Al-Furqan [25]:47 tentang menjaga keseimbangan beribadah, dan QS. Al-Nisa’ [4]:171 tetang larangan ghuluw. Kedua, hadis tersebut tidak bertentangan dengan hadis lain yang membahas tentang tidak dianjurkan berpuasa dahr. Ketiga, berdasarkan konteks historis hadis tentang puasa dahr disabdakan Nabi saw. berkaitan dengan asbāb al-wurūd mikro (khusus), bahwa hadis ini berkaitan dengan semangat beberapa sahabat Nabi saw yang berlebihan dalam beribadah (berpuasa, shalat malam, dan mengkhatamkan al-Qur’an). Sedangkan, asbāb al-wurūd makro (umum) berkaitan perjalanan perang Nabi saw dan para sahabat, sehingga Nabi saw menganjurkan tidak berpuasa demi menjaga ketahanan tubuh. Keempat, tidak dianjurkannya puasa dahr itu merupakan wasīlah mutaghayyirah yang bisa berubah berdasarkan ‘illat, sedangkan ghāyah thābitah (tujuan) dari hadis ini ialah menjaga kesehatan tubuh manusia sesuai dengan ḥifẓ al-nafs dalam maqāṣid al-sharī’ah. Kelima, hadis ini termasuk kināyah, sebab memberi jalur alternatif terhadap maksud makna.
| Item Type: | Thesis (Skripsi, Tesis, Disertasi) (Undergraduate (S1)) |
|---|---|
| Subjects: | 11 MEDICAL AND HEALTH SCIENCES (Ilmu Medis dan Kesehatan) > 1199 Other Medical and Health Sciences > 119999 Medical and Health Sciences not elsewhere classified |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin > Jurusan Ilmu Hadits |
| Depositing User: | SHINTA EKA LESTARI |
| Date Deposited: | 28 Apr 2026 01:34 |
| Last Modified: | 28 Apr 2026 01:34 |
| URI: | https://etheses.iainkediri.ac.id:80/id/eprint/21277 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
