Hidayah, Itsna Nurul (2026) Makna Dalam Tradisi Penggunaan Dupa Pada Majelis Salawat Di Kabupaten Nganjuk. Undergraduate (S1) thesis, IAIN Kediri.
|
Text
20105097_prabab.pdf Download (494kB) |
|
|
Text
20105097_bab1.pdf Download (228kB) |
|
|
Text
20105097_bab2.pdf Download (241kB) |
|
|
Text
20105097_bab3.pdf Download (190kB) |
|
|
Text
20105097_bab4.pdf Restricted to Repository staff only Download (198kB) |
|
|
Text
20105097_bab5.pdf Restricted to Registered users only Download (302kB) |
|
|
Text
20105097_bab6.pdf Download (44kB) |
|
|
Text
20105097_daftarpustaka.pdf Download (96kB) |
Abstract
Majelis Salawat adalah salah satu kelompok pecinta salawat yang keberadaannya cukup dikenal oleh remaja yang mengikuti grub salawat kecil di Kabupaten Nganjuk. Dalam setiap kegiatan majelis yang dilangsukan, terdapat tradisi penggunaan dupa. Ini adalah fenomena yang berbeda dari majelis-majelis umumnya, maka menjadi menarik untuk dijelaskan bagaimana anggota majelis salawat memaknai penggunaan dupa dalam konteks keislaman di Kabupaten Nganjuk. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik penentuan subjek mengunakan purposive sampling untuk menjelaskan pengalaman individu atau subjek anggota aktif majelis dan subjek tambahan yakni pengurus majelis salawat di Kabupaten Nganjuk dengan jumlah total 8 subjek. Untuk menjelaskan praktik fenomena tersebut meminjam teori konstruksi sosial Peter L. Berger sebagai pisau analisisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan dupa dalam Majelis Salawat dimaknai melalui perspektif teori konstruksi sosial Peter L. Berger, mencakup internalisasi, eksternalisasi, dan objektivasi. internalisasi, di mana anggota secara bertahap menyerap, meyakini, dan mempercayai bahwa dupa bukan sekadar pengharum, melainkan memiliki makna spiritual mendalam yakni sebagai wewangian sunnah yang membawa kekhusyukan dan keberkahan. Eksternalisasi, yaitu bentuk perilaku nyata seperti penyiapan dupa oleh anggota yang bertanggung jawab, serta penggunaannya dalam setiap ritual salawatan sebagai simbol doa dan penghormatan. Objektivasi, di mana tidak lagi hanya menjadi keyakinan pribadi atau tindakan individu, melainkan menjadi realitas sosial yang mandiri, diakui secara sosial sebagai simbol sakral, pengikat komunitas, dan bagian integral dari tradisi serta budaya majelis yang diwariskan secara turun-temurun. Proses ini menunjukkan bagaimana makna spiritual yang mendalam dihidupkan dan dipertahankan dalam komunitas Majelis Salawat.
| Item Type: | Thesis (Skripsi, Tesis, Disertasi) (Undergraduate (S1)) |
|---|---|
| Subjects: | 16 STUDIES IN HUMAN SOCIETY (Studi Kemasyarakatan, incl : sosiologi) > 1601 Anthropology > 160104 Social and Cultural Anthropology |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin > Jurusan Sosiologi Agama |
| Depositing User: | ITSNA NURUL HIDAYAH |
| Date Deposited: | 04 Mar 2026 06:41 |
| Last Modified: | 04 Mar 2026 06:41 |
| URI: | https://etheses.iainkediri.ac.id:80/id/eprint/20976 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
