Rahmawati, Amanda (2026) Makna Perkawinan Sirri bagi Pasangan Suami Istri Sirri Perspektif Sosiologi Hukum (Studi Kasus di Desa Jatiduwur Kecamatan Kesamben Kabupaten Jombang). Undergraduate (S1) thesis, UIN Syekh Wasil Kediri.
|
Text
22301106_prabab.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
22301106_bab1.pdf Download (331kB) |
|
|
Text
22301106_bab2.pdf Download (517kB) |
|
|
Text
22301105_bab3.pdf Download (232kB) |
|
|
Text
22301106_bab4.pdf Restricted to Registered users only Download (341kB) |
|
|
Text
22301106_bab5.pdf Restricted to Registered users only Download (310kB) |
|
|
Text
22301106_bab6.pdf Download (188kB) |
|
|
Text
22301106_daftarpustaka.pdf Download (211kB) |
|
|
Text
22301106_lampiran.pdf Restricted to Repository staff only Download (760kB) |
|
|
Text
22301106_suratpernyataanupload.pdf Restricted to Repository staff only Download (211kB) |
Abstract
Penelitian ini mengkaji makna perkawinan sirri bagi pasangan suami istri sirri di Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang dalam perspektif sosiologi hukum. Fenomena perkawinan sirri masih banyak ditemukan di masyarakat karena dipengaruhi oleh faktor ekonomi, tradisi, pemahaman agama, serta rendahnya kesadaran hukum mengenai pentingnya pencatatan perkawinan. Fokus penelitian ini didasarkan pada adanya perbedaan antara ketentuan hukum negara yang mewajibkan pencatatan perkawinan dengan realitas sosial masyarakat yang lebih menekankan pada sahnya perkawinan menurut agama. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum empiris dengan pendekatan sosiologi hukum. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas tiga pasangan suami istri sirri, satu tokoh agama, satu perangkat desa, serta dua orang masyarakat yang mengetahui praktik perkawinan sirri di Desa Jatiduwur. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menggambarkan kondisi empiris mengenai praktik, faktor pendorong, dan makna perkawinan sirri yang terjadi di masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik perkawinan sirri di Desa Jatiduwur dilaksanakan dengan memenuhi rukun dan syarat nikah menurut syariat Islam, seperti adanya wali, saksi, dan ijab qobul. Namun tidak dicatatkan di Kantor Urusan Agama sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum administratif. Faktor-faktor yang mendorong terjadinya perkawinan sirri dikarenakan keterbatasan ekonomi dan pemahaman hukum masyarakat yang rendah, keabsahan agama kebih diutamakan daripada pencatatan agama, penerimaan sosial terhadap perkawinan sirri, serta kuatnya pengaruh nilai agama yang lebih menekankan keabsahan perkawinan menurut agama daripada pencatatan negara. Perkawinan sirri dimaknai sebagai bentuk penghalalan hubungan, pemenuhan kewajiban agama, sarana menghindari perbuatan zina yang berkelanjutan, kejelasan status dalam hubungan, serta solusi atas berbagai keterbatasan yang mereka hadapi. Dalam perspektif sosiologi hukum, pemaknaan perkawinan sirri dipengaruhi oleh nilai agama dan lingkungan sosial. Teori tindakan sosial Max Weber menunjukkan bahwa perkawinan sirri dilakukan berdasarkan nilai keagamaan, teori kesadaran hukum Soerjono Soekanto menunjukkan bahwa masyarakat lebih mengutamakan keabsahan agama daripada legalitas negara, sedangkan teori Living Law Eugen Ehrlich menjelaskan bahwa norma yang hidup dalam masyarakat lebih dominan dibandingkan hukum negara.
| Item Type: | Thesis (Skripsi, Tesis, Disertasi) (Undergraduate (S1)) |
|---|---|
| Subjects: | 18 LAW AND LEGAL STUDIES (Ilmu Hukum) > 1801 Law and Islamic Law > 180119 Law and Society (Hukum dan Masyarakat) |
| Divisions: | Fakultas Syariah > Jurusan Ahwal Al-Syakhsiyah - Hukum Keluarga Islam |
| Depositing User: | AMANDA RAHMAWATI |
| Date Deposited: | 25 Jun 2026 06:50 |
| Last Modified: | 25 Jun 2026 06:50 |
| URI: | https://etheses.iainkediri.ac.id:80/id/eprint/22706 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
