Widiastuti, Annisa (2026) Hubungan Attachment Orang Tua Terhadap Kemandirian Melaksanakan Ibadah Shalat Fardhu Siswa Kelas 5 & 6 MIT Baitul Aziz, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung. Undergraduate (S1) thesis, UIN Syekh Wasil Kediri.
|
Text
933402418_Prabab.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
933402418_bab1.pdf Download (379kB) |
|
|
Text
933402418_bab2.pdf Download (291kB) |
|
|
Text
933402418_bab3.pdf Download (150kB) |
|
|
Text
933402418_bab4.pdf Restricted to Registered users only Download (367kB) |
|
|
Text
933402418_bab5.pdf Restricted to Registered users only Download (131kB) |
|
|
Text
933402418_bab6.pdf Download (123kB) |
|
|
Text
933402418_daftar pustaka.pdf Download (234kB) |
|
|
Text
933402418_Pernyataan Persetujuan Publikasi.pdf Download (607kB) |
Abstract
Masa remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Pada masa remaja inilah akan terjadi berbagai perubahan di dalam hidup manusia. Pada masa ini, upaya-upaya untuk mencapai kemandirian dan menemukan identitas diri menjadi isu yang menonjol. Pikiran remaja akan menjadi lebih logis, abstrak dan idealis. Pada masa remaja akan dimulai sebuah perkembangan kognitif, dimana pemahaman remaja tidak lagi terbatas pada pengalaman-pengalaman yang aktual dan konkret. Remaja juga menjadi mampu berpikir logis dan idealistik. Remaja akan mulai bergulat dengan cara berpikir logis dan rumit seperti mempertanyakan apakah Tuhan benar-benar ada atau dia hanya mengikuti orang tuanya. Hukum shalat fardhu yang awalnya tidak wajib bagi anak-anak berubah menjadi wajib ketika anak-anak sudah mencapai usia 7 tahun seperti hadits yang diriwayatkan H.R. Ahmad dan Abu Daud. “Suruhlah anak-anak kecil kamu melakukan sembahyang pada (usia) 7 tahun, dan pukullah mereka (bila lalai) atasnya pada (usia) 10 tahun, dan pisahkanlah mereka di tempat-tempat tidur.” (H.R. Ahmad dan Abu Daud). Karena hal itulah anak-anak diharapkan mampu memiliki kemandirian dalam melaksanakan ibadah shalat fardhu. Kemandirian ini berarti keadaan dimana seseorang dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Penelitian ini dilakukan di MIT Baitul Aziz yang berada di Kabupaten Bandung, penelitian dilakukan kepada seluruh siswa yang duduk di bangku kelas 5 & 6, dimana rata-rata siswa yang duduk di kelas ini sudah berusia 10-12 tahun yang sudah termasuk ke dalam usia baligh. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan jumlah responden sebanyak 48 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata siswa kelas 5 & 6 berada di tingkat sangat tinggi. Sebanyak 23 siswa berada di tingkat sangat tinggi untuk pola attachment orang tua (47.9%) dan sebanyak 44 siswa berada di tingkat sangat tinggi dalam kemandirian melaksanakan ibadah shalat fardhu (91.7%). Hasil penelitian mengatakan bahwa terdapat hubungan yang positif antara pola attachment orang tua dengan kemandirian melaksanakan ibadah shalat fardhu. Hal ini ditunjukkan oleh hasil nili signifikansi sebesar 0,000. Dimana nilai ini berarti 0,000 < 0,05. Maka artinya kedua variabel memiliki hubungan atau berkorelasi. Nilai Pearson Correlation sebesar 0,526 menunjukkan bahwa bentuk hubungan kedua variabel adalah positif. Hal ni berarti semakin tinggi tigkat attachment orang tua maka akan semakin tinggi juga tingkat kemandirian melaksanakan ibadah shalat fardhu siswa kelas 5 & 6 di MIT Baitul Aziz.
| Item Type: | Thesis (Skripsi, Tesis, Disertasi) (Undergraduate (S1)) |
|---|---|
| Subjects: | 17 PSYCHOLOGY AND COGNITIVE SCIENCES (Ilmu Psikologi dan Kognitif) > 1701 Psychology > 170102 Developmental Psychology and Ageing |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin > Jurusan Psikologi Islam |
| Depositing User: | Annisa Widiastuti |
| Date Deposited: | 11 Jun 2026 06:55 |
| Last Modified: | 11 Jun 2026 06:55 |
| URI: | https://etheses.iainkediri.ac.id:80/id/eprint/22414 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
