Kebohongan yang Dilakukan Dalam Pelaksanaan Khitbah Perspektif Hukum Islam

Istakwim, Istakwim (2017) Kebohongan yang Dilakukan Dalam Pelaksanaan Khitbah Perspektif Hukum Islam. Undergraduate (S1) thesis, IAIN Kediri.

[img] Text
ABSTRAK_HALAMAN PERSETUJUAN.pdf

Download (458kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (412kB)
[img] Text
BAB III.pdf

Download (472kB)
[img] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (342kB)
[img] Text
BAB V.pdf

Download (133kB)
[img] Text
PROFIL PENULIS.pdf

Download (140kB)
[img] Text
PEDOMAN WAWANCAR1.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (83kB)

Abstract

Fenomena kebohongan dalam khitbah marak terjadi di kalangan masyarakat indonesia, bahkan para pelaku kebohongan sudah merebak di semua komponen masyarakat mulai dari orang awam sampai orang yang sudah sedikit banyak mengerti tentang hukum agama. Sehingga pada kejadiannya timbul kekecewaan dari pihak yang merasa dirugikan yang terkadang berujung perceraian. Untuk itu, maka penelitian ini bermaksud mengetahui kebohongan yang dilakukan dalam pelaksanaan khitbah perspektif hukum Islam, serta bertujuan untuk mengetahui keabsahan akad pernikahannya serta kebolehan melakukan khiyār yang berlandaskan kobohongan dalam khitbah. Penelitian ini berdasarkan sumber datanya termasuk kategori penelitian kepustakaan (library research), dan ditinjau dari segi sifat datanya termasuk dalam penelitian kualitatif. Metode pengumpulan data diperoleh dari literatur buku-buku dan kitab kuning/klasik. Di dalam menganalisis data penyusun menggunakan analisis induktif, kemudian disajikan dalam bentuk deskriptif analitis. Dalam hal ini hasil penelitian menunjukkan bahwa kebohongan yang dilakukan ketika dalam pelaksanaan khitbah adalah haram, karena tidak ditemukan adanya unsur kemaslahatan di dalamnya. Bahkan hanya menimbulkan kemaḍaratan. Sedangkan keabsahan akad pernikahan yang sebelumnya terdapat kebohongan di dalamnya adalah sah selama kebohongan tersebut tidak mencegah keabsahan pernikahan. Dan diperbolehkan memilih (khiyār) untuk meneruskan akad pernikahan atau merusaknya bagi masing-masing suami atau istri. Jika mereka memilih meneruskan akad maka istri memperoleh mahar musamma secara utuh. Namun bila mereka memilih merusak akad, maka suami berkewajiban membayar setengah dari mahar musamma apabila belum menggaulinya. Namun apabila merusak akad setelah menggauli sang istri maka diwajibkan baginya membayar mahar mithli.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012801 Nikah (Marriage)
Divisions: Fakultas Syariah > Jurusan Ahwal Al-Syakhsiyah
Depositing User: Muhamad Hamim
Date Deposited: 13 Dec 2018 01:05
Last Modified: 13 Dec 2018 01:05
URI: http://etheses.iainkediri.ac.id/id/eprint/11

Actions (login required)

View Item View Item